Tipologi Morfologis Abad XIX

  1. 1. Pendahuluan

Perbandingan morfologis masih memerlukan bantuan struktur fonologis (fonetis,fonemis, kondisi varian fonem-fonem). Berdasarkan kemiripan-kemiripan morfemis pada bentuk-bentuk terikat (morfem terikat) dan kemiripan-kemiripan pada morfem dasar, para ahli telah mencoba mengadakan pengelompokan-pengelompokan. Mula-mula lebih menekankan kemiripan pada morfem-morfem terikat, kemudian melangkah lebih jauh dengan memberi perhatian yang lebih besar pada bentuk dasar.

Moroflogi menyediakan kemungkinan yang jauh lebih luas untuk mengadakan klasifikasi bahasa bila dibandingkan dengan bidang fonologi. Sejak permulaan abad ke XIX telah mulai diusahakan klasifikasi dengan menggunakan tipe-tipe morfologis bahasa, sejalan dengan klasifikasi genealogis. Namun hasilnya tidak begitu populer, bila dibandingkan dengan klasifikasi geneologis. Walaupun pada dasarnya klasifikasi tipologi morfologis yang dikembangkan selama abad ke XIX sampai dengan awal abad XX sama saja, masih dapat diadakan beberapa pengelompokan berdasarkan titik tolak yang dipergunakan.

Kelompok yang pertama adalah para sarjana yang semata-mata mempergunakan bentuk-bentuk bahasa untuk dijadikan dasar klasifikasinya, yaitu von schlegel bersaudara, von humboltdt, A.F,pott,yang juga mempengaruhi sarjana bahasa rusia seperti furtunatov dan marr. Kelompok yang kedua mempergunakan akar kata sebagai landasan klasifikasi yaitu franz bopp dan max miller, kelompok yang ketiga adalah para sarjana yang menggunakan bentuk sintaksis dalam klasifikasinya seperti heymann steinthal dan franz mistelli.

Klasifikasi morfologis tetap menggunakan kelima prinsip bahasa sebagai dasar pemikiran dan titik tolak klasifikasi morfologis. Morfologi bahasa-bahasa pada umumnya memberi peluag yang jaug lebih luas, bila dibandingkan dengan tipologi fonologis. Tipe-tipe morfem yang berbeda antara bahasa-bahasa, cara-cara menggabungkan tipe-tipe itu, serta pilihan atas tipe mana yang akan digunakan, memberi peluang yang sangat besar dalam klasifikasi.

  1. 2. Tipologi Von Schlegel

Friederich von schlegel dan August wilhelm von schlegel mempergunakan morfem dasar atau bentuk bentuk dasar bahasa (steam) dan morfem-morfem terikat sebagai landasan klasifikasinya.

2.1 Klasifikasi Friedrich von sclegel

Friederich vin schlegel mengajukan suatu klasifikasi atas bahasa-bahasa di dunia ini menjadi dua kelompok :

  1. Bahasa-bahasa yang berafiks ( sprachem durch affixa)
  2. Bahasa-bahasa yang berfleksi ) sprachen durch flexion)

Istilah fleksi pada waktu itu diartikan dengan perubahan internal dalam akar kata  seperti : sing-sang-sung, di-did-done. Sedangkan pengertian afiks menurut von schlegel adalah unsur yang digabungkan dengan morfem dasar atau steam, tetapi tetap transparan (jelas batasanya).

2.2 Klasifikasi August W. Von Schlegel

August von schlegel mengembangkan klasifikasi menjadi tiga kelas bahasa :

  1. Bahasa tanpa struktur gramatikal, misalnya bahasa cina
  2. Bahasa yang memepergunakan afiks, misalnya bahasa turki.
  3. Bahasa yang berfleksi, misalnya bahasa indo-eropa.

August von schlegel lebih jauh membagi lagi bahasa fleksi dalam dua sub kelas, yaitu atas bahasa sintetis dan bahasa analitis. Bahsa sintetis diwakili oleh bahsa bahasa latin, yunani, dan sansekerta, sedangkan bahsa fleksi yang analitis diwakili oleh bahasa inggris dan jerman.

Bahasa fleksi yang sintetis dapat dibedakan dari bahasa fleksi yang analitis berdasarkan ciri-ciri berikut :

  1. Bahasa sintetis tidak memiliki artikel bagi kata bendanya, sebaliknya bahasa analitis memiliki artikel bagi kata-kata bendanya.
  2. Bahasa sintetis tidak menggunakan pesona sebelum kata kerja, sebaliknya bahasa analitis menggunalan pesona.
  3. Bahsa sintetis tidak menggunakan kata bantu dalam konjungsinya, sebaliknya bahasa analitis menggunakan kata bantu dalam konjungsinya.
  4. Baha sintetis tidak menggunakan preposisi untuk menyatakan relasi antar kata, sebaliknya bahasa analitis menggunakanya.
  5. Bahasa suntetis menggunakan bentuk-bentuk gramatikal, sebaliknya bahasa analitis menggunalan adverbium.
  1. 3. Tipologi von Humboldt

Humboldt mengajukan suatu klasifikasi baru yang didasarkan pada empat kelas bahasa. Keempat kelas bahasa yang dikemukakanya adalah :

  1. Bahasa isolatif
  2. Bahasa aglutinatif
  3. Bahasa fleksi
  4. Bahasa inkorporatif

Untuk pertama kali dalam sejarah perbandingan bahasa von humboldt mempergunakan istilah aglutinatif untuk menggantikan bahasa berafiks yang digunakan von schlegel. Ciri utama dari kelas bahsa ini adalah penggunaan melimpah afiks-afiks yang dalam bahasa-bahasa lain biasanya dinyatakan dengan bentuk bebas atau dalam beberapa kata. Seluruh konstruksi bergantung pada sebuah prediket verbal. Bahasa unkorporatif menggabungkan sebuah kata kerja,subjek,objek, dan bermacam-macam keteangan menjadi sebuah kata.

Bahasa inkorporatif atau bahasa polisintetis relatif sebagai digunakan oleh vin humboldt mengangkut kemungkinan penyatukan sejumlah morfem leksikal menjadi sebuah kata.

  1. 4. Franz Bopp

Franz bopp  mengemukakan suatu klasifikasi berdasarkan akar kata, yaitu :

  1. Bahasa dengan akar yang monosilabis. Kelas bahasa ini tidak mempunyai kemampuan untuk berkomposisi, dan dengan demikian tidak memiliki gramar. Contoh : bahasa cina dan vietnam.
  2. Bahasa dengan akar kata yang mampu berkomposisi. Kelas bahasa ini memiliki gramar karena kemampuanya berkomposisi. Prisnsip umum pembentukan katanya adalah pertalian akar verbal dan pronominal. Contoh : bahasa indo-eropa
  3. Bahasa dengan akar silabis. Akar kata bahasa ini ditandai oleh tiga konsonan sebagai dasar pembentukan katanya, yang sekaligus menjadi pendukung makna kata.
  4. 5. August Friedrich pott

August friedrich pott memperkuat klasifikasi von humboldt, dan membagi bahasa-bahasa menjadi :

  1. Bahasa-bahasa isolatif
  2. Bahasa-bahasa aglutinatif
  3. Bahasa-bahasa fleksional
  4. Bahasa-bahsa inkorporatif

Menurut pott bahasa fleksional adalah bahasa yang normal sementara bahasa isolatoif dan bahasa aglutinatif adalah bahasa infranormal.

  1. 6. August J. Schleicher

August J.schleicher mengusulkan suatu klasifikasi berdasarkan struktur morfologis. Ia bertolak dari asumsi bahwa bahasa-bahasa memiliki makna dan relasi. Sebab itu, ia mengemukakakn suatu pendirian bahwa bahasa-bahasa dapat diklasifikasikan berdasarkan cara penggunaan bunyi untuk menyatakan kedua hal itu.

Selanjutnya schleicher memperinci klasifikasi tadi dengan menambahkan beberapa konsep berikut untuk menjelaskan proses-proses morfologis yang tercakup dalam tiap kelas tadi. Unsur-unsur yang dimaksud adalah :

R          = Akar (radix)

r           = akar kedua, yang bersifat yukstapositif dan terpisah, dan berfungis menyatakan relasi tertentu dengan R.

S          = sufixs

P          = prefiks

I           = Infiks

X         = variasi teratur yang ditulis sebagai supersctipt.

Unsur s,p,i, dan x membentuk bagian dari kata dan berfungsi menyatakan relasi, bukan makna.

Berdasarkan kedua dasar diatas, maka scheleicher mengajukan tipologinya sebagai berikut :

  1. Bahasa monosilabis (einsylbig). Makna dalam bahasa ini merupakan satu-satunya aspek yang dinyatakan oleh bentuk. Bunyi-makna (=kata) tidak berubah dan selalu terpisah. Relasi antar kata tidak dinyatakan secara terbuka (eksplisit).
  2. Bahasa aglitinatif. Dalam bahasa ini relasi dinyatakan secara fonologis atau morfologis serta diafiksasi secara longgar kepada bunyi makna )= stem; bentuk dasar) yang tidak berubah. Kelas bahasa ini dibagi lagi menjadi dua, yaitu
    1. Bahasa aglutinatif yang sintetis : bahasa-bahasa ini memiliki kata-kata yang berstruktur :

Rs        : Seperti bahasa finno-ugris

Ri         : seperti bahasa tush

pRs      : seperti bahasa indonesia

  1. Bahasa fleksi. Makna relasi dalam bahasa ini dinyatakan oleh  bunyi, tetapi dengan cara yangs edemikian rupa sehingga difusikan dalam sebuah kata. Kelas bahas ini dibagi lagi menjadi dua :
    1. Bahasa fleksi yang sintetis : kata-katanya mengandung struktur :

Rx  :

PRx            : bahasa arab dan ibrani

RxSx          : bahasa yunani, latin dan sansekerta

  1. Bahasa fleksi yang analitis : kata katanya mengandung struktur :

RxSx + r : bahasa prancis, jerman, inggris.

  1. 7. Heymann Steinthal

Heymann mengajukan satu klasifikasi berdasarkan tipe-tipe afiks dan fleksi dalam sebuah bahasa. Klasifikasi ini mempergunakan bentuk, tetapi bukan bentuk morfologis melainkan bentuk sintaksis. Bentuk sintaksis yang dipakai adalah relasi antara kata yang membentuk sebuah kalimat.

Landasan kedua dalam tipologi steinthal adalah pembedaan antara kolokasi dan derivasi. Dari kedua landasan itu, steinthal mengajukan klasifikasinya sebagai berikut :

  1. a. Bahasa-bahasa yang tak terbentuk
    1. Bahasa kolokatif
    2. Bahasa derivatif
      1. Memiliki reduplikasi dan prefiks
      2. Memiliki sufiks
      3. Memiliki korporasi
      4. b. Bahasa-bahasa berbentuk
        1. Bahasa kolokatif
        2. Bahasa derovatif
          1. Dengan yuktaposisi unsur gramatikal
          2. Dengan perubahan pada akar bahasa
          3. Dengan sufiks sebenarnya.
  2. 8. Max Muller

Max mengusulkan klasifikasinya sebagai berikut :

  1. Bahasa tahap radikal. Akar dapat dipakai sebagai kata. Tiap akar menjaga kebebasanya yang penuh. Bahasa ini sebelumnya disebut sebagai monosabilis karena kata-katanya terdiri dari satu suku kata, dan belum mengalami perkembangan apa pun.
  2. Bahasa tahap terminasional. Dua akar kata dalam bahasa ini dapat disatukan untuk membentuk kata, dan dalam penggabungan itu salah satu akar kehilangan kebebasanya.
  3. Bahasa tahap infleksional. Dua akar dapat disatukan untuk membentuk kata, dan dalam penggabungan ini kedua akar dapat kehilangan kebebasanya.
  1. 9. Franz Mistelli

Mistelli membagi bahasa-bahasa di dunia ke dalam enam kelas bahasa yang bersama-sama membentuk dua kelompok besar dengan empat subkelompok, yaitu :

  1. I. Bahasa-bahasa yang tak terbentuk
    1. 1. Bahasa dengan kata yang berbentuk kalimat, misalnya bahasa amerindian.
    2. 0. Bahasa tanpa kata

2.Bahasa isolatif

3. bahasa isolatif dasar

4. bahasa yukstaposing

c. 5. bahasa dengan kata yang jelas

  1. II. Bahasa – bahasa yang berbentuk

6. bahasa dengan kata yang sesungguhnya, misalnya bahasa indi-eropa dan semit.

10. Franz Nicolaus Finck

Menurut finck, bahasa manusia terdiri dari dua proses, yaitu :

  1. Proses penyatuan situasi-situais riil ke dalam suatu kesatuan. Oleh sebab itu, untuk menentukan kekomppleksan itu harus diadakan analisa situasi riil tadi ke dalam komponen-komponen pembentuknya.
  2. Untuk mendapatkan ciri fragmenter tersebut harus dilakukan pemulihan kembali ke dalam suatu kesatuan melalui kata-katanya.

Finck juga membagi bahasa infleksi kedalam dua kelas yaitu bahasa infleksi akar dan ahasa infleksi dasar. Infleksi akar adalah bahasa-bahasa yang akarnya tetap tidak berubah pada waktu terjadi infleksi intern. Selanjutnya finck menambahkan kels ketiga yang umumnya mendatangkan kesulitan pada tipologi  yang lain,yang tidak membedakan dasar-dasar morfologis dan sintaksis. Ciri bahasa ini mencakup interpedensi bagian-bagian kalimat yang dinyatakan dengan struktur intern dari kata.

Berdasarkan alasan diatas, maka finck membagi bahasa sebagai berikut :

  1. a. Bahasa isolatif
    1. Bahasa isolatif akar, seperi bahasa cina
    2. Bahasa isolatif dasar, seperti bahasa samoa
    3. b. Bahasa infleksi
      1. Bahasa infleksi akar, seperti bahasa semit
      2. Bahasa infleksi dasar, seperti bahasa yunani
      3. Bahasa infleksi kelompok, seperti bahasa baskia.
      4. c. Bahasa yang menggabungkan komponenya, tetapo tidak diinfeksi
        1. Bahasa yukstaposing, seperti bahasa subiya.
        2. Bahasa aglutinatif, seperti bahasa turki.
        3. Bahasa inkorporatif, seperti bahasa eskimo.

11. Kesimpulan

Dapat dilihat secara umum, klasifikasi yang meninjol dan dapat bertahan adalah klasifikasi dari august wilhelm schlegel. Klasifikasi-klasifikasi yang lain hanyalah merupakan usaha untuk memperinci lebih lanjut klasifikasi von schlegel. Bila kita mengadakan pengelompokan lagi semua hasil klasifikasi itu, maka didapat :

  1. Kelompok I : friedrich von schlegel, august w. Schlegel, wilhelm von humboldt, a.f pott, A.J schleicher, F.N. Finck, yang mempergunakan bentuk-bentuk morfologis kata, yaitu memperhatikan penggabungan antara bentuk dasar dengan afiknya.
  2. Kelompok II : franz bopp, max muller, yang berusaha mengelompokan bahasa-bahasa dengan mempergunakan akar kata.
  3. Kelompok III : heymann steinthal, franz mistelli, yang mempergunakan bentuk relasi, walaupun apa yang mereka artikan dengan entuk berbeda-beda.
About these ads
This entry was posted in literature. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s